VAKSIN MMR(Mumps, Measles, Rubella) DAN AUTISME

Oktober 2, 2008 at 11:53 am (Ilmu Kesehatan Anak / Pediatric) (, , , )

Vaksinasi MMR adalah vaksin kombinasi yang diberikan untuk meningkatkan ketahanan tubuh anak terhadap penyakit Mumps (gondongan), Measles (campak) dan Rubella (campak jerman). Pemberian vaksin MMR biasanya diberikan pada usia anak 15 bulan. Vaksin ini adalah gabungan vaksin hidup yang dilemahkan. Semula vaksin ini ditemukan secara terpisah, tetapi dalam beberapa tahun kemudian digabung menjadi vaksin kombinasi. Kombinasi tersebut terdiri dari virus hidup Campak galur Edmonton atau Schwarz yang telah dilemahkan, Componen Antigen Rubella dari virus hidup Wistar RA 27/3 yang dilemahkan dan Antigen gondongan dari virus hidup galur Jerry Lynn atau Urabe AM-9.

Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Perdebatan yang terjadi akhir-akhir ini berkisar pada kemungkinan hubungan autisme dengan imunisasi MMR. Banyak orang tua menolak imunisasi karena mendapatkan informasi bahwa imunisasi MMR dapat mengakibatkan autisme. Akibatnya anak tidak mendapatkan perlindungan imunisasi untuk menghindari penyakit-penyakit justru yang lebih berbahaya seperti hepatitis B, Difteri, Tetanus, Pertusis, TBC dan sebagainya.

Kekhawatiran ini muncul sejak tahun 1998 di mana suatu penelitian oleh dr. Andrew Wakefield dari Royal Free Hospital di London, yang dituangkan dalam jurnal the Lancet, menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pemberian vaksinasi MMR dengan penyimpangan perkembangan dan simptom gastrointestinal pada anak yang terjadi setelah pemberian vaksin tersebut, sehingga diklaim bahwa vaksinasi MMR merupakan pencetus dari terjadinya autisme pada anak. Sebelumnya, data pemerintah Inggris menyatakan lebih dari 90 persen anak-anak di negara tersebut menerima vaksin. Tetapi sejak adanya penemuan dari penelitian Wakefield, terjadi penurunan hingga ke angka 80 persen. Meskipun pada akhirnya angka ini kembali naik ke angka 85 persen.

Di Denmark, prevalensi autisme (berdasarkan kriteria dari International Classification of Diseases, 8th Revision) kurang dari 2 kasus per 10.000 anak berusia antara lima sampai sembilan tahun pada tahun 1980-an dan awal 1990-an. Sejak itu, angka tersebut meningkat pada semua kelompok umur kecuali pada anak yang berusia kurang dari dua tahun, dan pada tahun 2000, prevalensi autisme (berdasarkan kriteria ICD-10) lebih tinggi dari 10 kasus per 10.000 anak berusia antara lima sampai sembilan tahun. Karena itu, peningkatan kejadian autisme di Denmark muncul setelah pemberian vaksin MMR, sehingga menunjukkan hubungan antara pemberian vaksin MMR dengan peningkatan kejadian autisme, meskipun mekanisme biologis yang terlibat dalam hubungan MMR-autisme tersebut belum diketahui.

Sementara penelitian lain menghasilkan tiga argumentasi yang kuat untuk menyangkal adanya hubungan sebab-akibat antara vaksinasi MMR dan autisme.

  • Pertama, resiko autisme adalah sama pada anak yang diberikan vaksinasi maupun pada anak yang tidak divaksinasi, dalam kelompok umur yang sama.
  • Kedua, tidak didapatkan kasus autisme pada kelompok tertentu setelah pemberian imunisasi.
  • Ketiga, baik kelainan autistik maupun kelainan spektrum-autistik lainnya tidak berkaitan dengan vaksinasi MMR.

Hasil tersebut didapatkan dari penelitian cohort yang dilakukan secara luas dan menyeluruh dengan data follow-up yang nyaris lengkap.

Beberapa institusi atau badan dunia di bidang kesehatan yang independen dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme. The Committee on Safety of Medicine (Komite Keamanan Obat) pada bulan Maret 2001, menyatakan bahwa kesimpulan dari Wakefield tentang vaksin MMR terlalu prematur dan tidak terdapat sesuatu yang mengkawatirkan. Sementara WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan mendukung sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR dengan didasarkan kajian tentang keamanan dan efikasinya.

Sumber :

1. Kreesten Meldgaard Madsen, M.D., Anders Hviid, M.Sc., Mogens Vestergaard, M.D., Diana Schendel, Ph.D., Jan Wohlfahrt, M.Sc., Poul Thorsen, M.D., Jørn Olsen, M.D., and Mads Melbye, M.D. A Population-Based Study of Measles, Mumps, and Rubella Vaccination and Autism. The New England Journal of Medicine, 2002; 347. pp. 1477-82. http://content.nejm.org/cgi/reprint/347/19/1477.pdf

2. G.S. Goldman, Ph.D., F.E. Yazbak, M.D., F.A.A.P. An Investigation of The Association Between MMR Vaccination and Autism in Denmark. Journal of American Physicians and Surgeons, 2004; 9. pp. 70-5. http://www.jpands.org/vol9no3/goldman.pdf

3. Sumber-sumber lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: