DIARE PARENTERAL

Oktober 18, 2008 at 6:47 am (Ilmu Kesehatan Anak / Pediatric) (, , , , , , )

PENGERTIAN DIARE

Definisi diare berdasarkan Seminar Rehidrasi Nasional III (1982) adalah perubahan konsistensi berak menjadi lembek sampai cair lebih dari 3 – 5 kali per hari. Untuk bayi dan anak-anak, bila volume berak lebih dari 10 gram / kgBB / hari. Sedangkan diare secara epidemiologi biasanya didefinisikan sebagai keluarnya tinja yang lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari.

Secara klinik, dibedakan tiga macam sindroma diare; yang masing-masing mencerminkan patogenesis yang berbeda dan memerlukan pendekatan yang berlainan dalam pengobatannya, yaitu diare cair akut bila berlangsung kurang dari 14 hari, disentri apabila disertai darah dalam tinja, serta diare persisten yang mula-mula bersifat akut namun berlangsung lebih dari 14 hari.

Pembagian diare menurut Depkes meliputi diare tanpa tanda dehidrasi, dehidrasi ringan sedang dan dehidrasi berat. Dehidrasi ringan sedang menurut Depkes adalah keadaan yang berbahaya karena dapat menyebabkan penurunan volume darah (hipovolemia), kolaps kardiovaskuler dan kematian bila tidak diobati dengan tepat.

Pada dasarnya gejala klinik dari penyakit diare dibagi menjadi empat aspek yang terdiri dari : (1). Muntah dan berak; (2). Aspek etiologi; (3). Aspek dehidrasi; (4). Aspek komplikasi

Muntah dan Berak

Muntah dan berak merupakan gejala utama gastroenteritis yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Aspek Etiologi

Czernic mengajukan faktor etiologi diare akut sebagai berikut :

a. Faktor makanan

Makanan merupakan penyebab non infeksi yang paling sering
diantaranya : makanan busuk atau mengandung racun, perubahan susunan makanan yang mendadak, atau susunan makanan yang tidak sesuai umur bayi yang berupa osmolaritas tinggi atau terlalu banyak serat.

b. Faktor infeksi

Merupakan penyebab diare yang paling sering, secara garis besar dibagi menjadi dua golongan:

– Infeksi parenteral :

Merupakan infeksi di luar usus, diperkirakan terjadi melalui jalur susunan saraf vegetatif yang mempengaruhi sistem saluran cerna sehingga terjadi diare.

– Infeksi enteral :

Merupakan infeksi dalam usus dan keadaan ini penting karena penyakit diare ini menular secara jalur orofecal.

c. Faktor konstitusi

Faktor konstitusi yaitu kondisi saluran cerna yang dijumpai pada keadaan intoleransi laktosa, malabsorbsi lemak dan intoleransi protein.

d. Faktor psikis

Keadaan depresif melalui susunan saraf vegetatif dapat mengganggu saluran cerna sehingga terjadi diare.

Aspek Dehidrasi

Gejala dehidrasi menurut kriteria WHO 1992 dibagi menjadi : Tanpa Tanda Dehidrasi; Dehidrasi Ringan-Sedang; Dehidrasi Berat.

Aspek Komplikasi

Akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi komplikasi karena dehidrasi dan asidosis antara lain : hipokalemi, kejang, syok, gagal ginjal dan malnutrisi.

DIARE PARENTERAL

Infeksi parenteral merupakan infeksi di luar usus yang memacu aktivitas saraf parasimpatis sehingga dapat mempengaruhi saluran cerna berupa peningkatan sekresi sehingga terjadi diare. Beberapa infeksi yang sering disertai diare adalah infeksi saluran nafas, infeksi saluran kemih, campak dan lain-lain. Infeksi saluran nafas dapat disebabkan oleh virus dari saluran napas atas, dapat juga oleh bakteri yang ikut makanan atau minuman, atau udara pernapasan. Pada campak, diare terjadi selama fase akut campak dan selama 2-3 bulan sesudahnya karena daya tahan terhadap infeksi menurun.

Infeksi parenteral dapat menyebabkan diare diperkirakan melalui jalur susunan syaraf vegetatif yang mempengaruhi sistem saluran cerna. Saraf vegetatif terdiri dari syaraf simpatis dan parasimpatis yang bila mendapat rangsangan akan memberikan respon yang berbeda pada saluran cerna. Akibat adanya pirogen dari infeksi parenteral akan menimbulkan rangsangan pada saraf parasimpatis, yang akan menstimuli otot polos untuk berkontraksi sehingga menimbulkan hipermotilitas usus yang menyebabkan berkurangnya fungsi usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Oleh karena itu, kuman penyebab diare tidak selalu ditemukan dalam feses penderita.

PENGELOLAAN DIARE PADA ANAK

Dasar pengelolaan diare yang dipakai adalah rumusan 5-D, yaitu :

(1) Dehidrasi, (2) Diagnosa, (3) Dietetik, (4) Drugs (pengobatan kausal) dan (5) Defisiensi Disakaridase.

Akhir-akhir ini digunakan pedoman pengelolaan penderita diare yang meliputi empat aspek, yaitu :

a. Aspek Rehidrasi

b. Aspek Refeeding

c. Aspek Medikamentosa

d. Aspek Edukasi

a. Aspek Rehidrasi

Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion natrium, klorida, kalsium dan bikarbonat. Semua komplikasi diare akut disebabkan karena kehilangan air dan elektrolit melalui tinja. Kehilangan sejumlah air dan elektrolit bertambah jika ada muntah, dan kehilangan air juga meningkat bila ada panas. Kehilangan ini menyebabkan dehidrasi karena kehilangan air dan natrium khlorida, asidosis karena kehilangan bikarbonat, dan kekurangan kalium. Dehidrasi adalah keadaan yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan penurunan volume darah, kolaps kardiovaskuler dan kematian apabila tidak di atasi dengan tepat. Rehidrasi dilakukan dengan cairan yang mengandung elektrolit sehingga dapat mengganti kehilangan cairan dan elektrolit

Bila berat badan anak tidak diketahui maka jumlah cairan yang digunakan disesuaikan menurut umur. Jumlah oralit (ml) yang diperlukan dapat dihitung dengan cara: berat badan (kg) dikalikan 75.

a. Aspek Refeeding

Refeeding supaya berhasil sebaiknya memenuhi persyaratan :

1. Penderita tidak jatuh lagi dalam keadaan dehidrasi atau asidosis akibat kekurangan cairan, kalori / nutrien tertentu.

2. Agar tidak terjadi uremia akibat protein tubuh terpaksa diuraikan.

3. Agar tidak terjadi diare kembali yang disebabkan intoleransi terhadap makanan.

b. Aspek Medikamentosa

Pada penderita diare yang disebabkan oleh infeksi parenteral dapat diberikan antibiotika. Pengobatan kausal dengan antibiotika harus dengan indikasi yang jelas, karena penggunaan secaara bebas dapat menyebabkan resistensi. Penderita juga dapat diberikan parasetamol untuk mengatasi apabila penderita panas, serta vitamin B kompleks dan vitamin C yang berfungsi sebagai roboransia untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan.

c. Aspek Edukasi

Keluarga, terutama ibu penderita diberi pengarahan tentang diare, tanda-tanda dehidrasi, pencegahan diare serta pemberian nutrisi pada penderita selama perawatan. Ibu diikutsertakan untuk merawat anaknya dan mengetahui cara pembuatan cairan rehidrasi oral agar ibu dapat membuat sendiri di rumah. Ibu diharapkan dapat memberikan pertolongan pertama dirumah apabila anak menderita diare, misalnya dengan memberikan oralit atau larutan gula garam. Bila tidak ada perubahan atau memburuk, diharapkan cepat dibawa ke sarana kesehatan terdekat.

Selain itu disarankan menjaga kebersihan, cuci tangan sebelum makan, air minum dimasak, persiapan alat makan dan minum yang bersih, pengolahan dan penyajian makanan yang bersih, serta menjaga kesehatan lingkungan di rumah.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA DIARE PARENTERAL

SUMBER

  1. Sudigbia I. Pengantar diare akut anak. Semarang : Badan penerbit FK UNDIP, 1991.
  2. Sudigbia I, Budi Santoso, Hartantyo. Diare akut. Dalam : Pedoman pelayanan medik anak RSDK/FK UNDIP. Semarang : Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP, 1989.
  3. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Gastroenterologi. Dalam : Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak I. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1985 : 283 – 311
  4. Partawihardja IS. Pengantar diare akut anak diare kronik, suatu pengenalan awal. Penatalaksana diatetik penderita diare anak, Semarang 26 September 1991, Badan penerbit Universitas Diponegoro, 1991 : 1- 28
  5. Suharyono. Gastroenterologi Anak Praktis. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;1998: 152-4.
  6. Tjitra E. Faktor Resiko yang Mempengaruhi Kesakitan Diare pada Balita. http://digilib.litbang.depkes.go.id
  7. Suwarti S, dkk. Pola Penyakit Anak Balita Penderita Gizi Buruk. http://digilib.litbang.depkes.go.id
  8. Musadad A. Penelitian Hubungan Faktor Lingkungan Rumah dengan Kejadian Penularan TB Paru di Rumah Tangga. http://digilib.litbang.depkes.go.id
  9. Warouw SP. Hubungan Faktor Lingkungan dan Sosial Ekonomi dengan Morbiditas (Keluhan ISPA dan Diare). http://digilib.litbang.depkes.go.id

2 Komentar

  1. Deden said,

    sangat bagus artikel anda untuk kami para mahasiswa……kami tunggu blog anda yang baru

  2. alin aun said,

    Infonya terima kasih banyak, ya. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: